Selasa, 13 Mei 2014

SCABIES (Penyakit Kudis)


Oleh : Rina wulandari/110100066

 Scabies merupakan penyakit kulit yang sering ditemukan di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari seringn kali kita jumpai penyakit scabies yang  akrab di kenal dengan sebutan penyakit kudis dan dalam bahasa jawa sering di sebut gudig (gudikan). Skabies atau Gudikan, salah satu penyakit kulit yang mudah menular yang disebabkan oleh kutu Scabies scabiei  (mite) yang dicirikan dengan adanya keropeng, kebotakan, dan kegatalan pada kulit, dari satu orang ke orang lainnya.         
 Scabies scabiei (mite) tersebut memasuki kulit stratum korneum, membentuk kanalikuli atau terowongan lurus atau berkelok sepanjang 0,6 sampai 1,2 centimeter. Akibatnya, penyakit ini menimbulkan rasa gatal yang panas dan edema yang disebabkan oleh garukan. Kutu betina dan jantan berbeda. Kutu betina panjangnya 0,3 sampai 0,4 milimeter dengan empat pasang kaki, dua pasang di depan dengan ujung alat penghisap dan sisanya di belakang berupa alat tajam. Sedangkan, untuk kutu jantan, memiliki ukuran setengah dari betinanya. Dia akan mati setelah kawin. Bila kutu itu membuat terowongan dalam kulit, tak pernah membuat jalur yang bercabang.
Di dalam terowongan ini, kutu bersarang dan mengeluarkan telurnya. Dalam waktu tujuh sampai 14 hari, telur menetas dan membentuk larva yang dapat berubah menjadi nimfa, selanjutnya terbentuk parasit dewasa. Hal yang paling disukai kutu betina adalah bagian kulit yang tipis dan lembab, yaitu daerah sekitar sela jari kaki dan tangan, siku, pergelangan tangan, bahu, dan daerah kemaluan. Pada bayi yang memiliki kulit serba tipis, telapak tangan, kaki, muka, dan kulit kepala sering diserang kutu tersebut.
Faktor penunjang penyakit ini antara lain social ekonomi rendah, hygiene buruk, sering berganti pasangan seksual, kesalahan diagnosis, dan perkembangan demografis serta ekologik. Penularan penyakit skabies ini dapat terjadi scara langsung maupun tidak langsung, karenanya tak heran jika penyakit gudik (skabies) dapat dijumpai di sebuah keluarga, di kelas sekolah, di asrama, di pesantren.
Adapun cara penularannya adalah sebagai berikut:
- Kontak langsung (kulit dengan kulit), misalnya berjabat tangan, tidur bersama,danhubunganseksual.
- Kontak tak langsung (melalui benda), misalnya pakaian, handuk, sprei, bantal, dll.

Penularan biasanya oleh sarcoptes betina yang telah dibuahi atau dalam bentuk larva. Dikenal juga dengan Sarcoptes scabei varian animals yang kadang- kadang dapat menulari manusia, terutama pada orang yang memelihara hewan seperti anjing.
  Tips untuk pencegahan penyakit scabies / gudig :
  • Meningkatkan kebersihan perorangan dan lingkungan.
  • Menghindari orang-orang yang terkena penyakit ini.
  • Mencuci pakaian yang dipakai sehari-hari, benar-benar dalam keadaan bersih, dan diusahakan untuk disetrika.
  • Menjemur alat-alat perlengkapan tidur beberapa hari sekali.
  • Menghindari memakai pakaian atau handuk bersama-sama.
  • Mandi secara teratur dua kali sehari dan diusahakan memakai sabun.
  • Meningkatkan gizi untuk meningkatkan daya tahan fisik kulit.
  • Penderita, seluruh anggota keluarga serta pasangan sex penderita, juga harus diperiksa dan diobati bila ternyata menderita penyakit yang sama.
Apabila sudah terlanjur merasakan gejala scabies lebih cepat akan lebih baik dilakukan pengobatan scabies untuk mencegah menyebarnya kepada orang-orang disekitar anda.
Ada dua cara pengobatan yang dapat digunakan, antara lain:
1.      Injeksi. Obat ektoparasit yang biasa digunakan adalah avermectin, misalnya ivermectin secara subkutan (SC). Dosis yang dianjurkan adalah 1 ml untuk 15 – 20 kg berat badan dan diulang 10 -14 hari kemudian. Avermetin sebaiknya tidak diberikan pada anjing dengan umur yang terlalu muda, kurang dari 6 bulan dan ada beberapa anjing yang peka terhadap obat tersebut.
2.      Dipping, yaitu memandikan hewan dengan tujuan pengobatan. Obat yang sering digunakan adalah Amitraz. 1 ml amitraz 5 % dilarutkan dalam 100 ml air untuk memandiakan hewan terinfestasi ektoparasit, dan diulang tiap minggu selama beberapa minggu hingga hewan sembuh.


Sumber :
Mypotik.2009.penyakit kulit Skabies.
http://mypotik.blogspot.com/2009/11/penyakit-kulit-skabies.html
Noviana.2008.Skabies.
http://dokternoviana.wordpress.com/2008/01/03/skabies/
Ratupuriayu.2010.Skabies Sarcoptes.
 http://ratupuriayu.wordpress.com/2010/01/11/skabies-sarcoptes-scabei/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar