Senin, 26 Mei 2014

ARTIKEL OBESITAS PEMBAHASAN



NAMA:SINTA PURNAMA SARI
NPM    :110100090
KELAS:REGULER A


1.       Pengertian Obesitas
Secara umum dapat dikatakan bahwa kegemukan adalah dampak dari konsumsi energy yang berlebihan, dimana energy yang berlebihan tersebut dapat disimpan didalam tubuh sebagai lemak, sehingga akibatnya dari waktu ke waktu badan akan bertambah berat disamping faktor kelebihan konsumsi energi, faktor keturunan juga mempunyai andil dalam kegemukan (muchatadi, 2001).
Obesitas adalah refleksi ketidakseimbangan konsumsi dan pengeluaran energi, penyebabnya ada yang bersifat Eksogenetis dan Endogenous.Penyebab Eksogenetis misalnya kegemaran makan secara berlebihan terutama makanan tinggi kalori tanpa diimbangi oleh aktivitas fisik yang cukup sehingga surflus energinya disimpan sebagai lemak tubuh (khomsan, 2004).
Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan.Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, sebagai penyekat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya.
Dari segi obesitas adalah kelebihan lemak dalam tubuh, yang umumnya ditimbun dalam jaringan supkutan (bawah kulit) sekitar organ tubuh yang kadang terjadi peluasan kedalam jaringan organnya, dari segi ilmu gizi obesitas, penimbun trigliseida yang berlebihan di jaringan-jaringan tubuh.







2.     Gejala Obesitas
Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru-paru, sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan.Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu), sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk.
Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan kaki).Juga kadang sering ditemukan kelainan kulit.
Seseorang yang menderita obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak.Sering ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan kaki.
Faktor-faktor lain dapat dibagi menjadi tiga faktor, yaitu:
1.    Faktor genetik. Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab genetik. Tetapi anggota keluarga tidak hanya berbagi gen, tetapi juga makanan dan kebiasaan gaya hidup, yang bisa mendorong terjadinya obesitas. Seringkali sulit untuk memisahkan faktor gaya hidup dengan faktor genetik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rata-rata faktor genetik memberikan pengaruh sebesar 33% terhadap berat badan seseorang.
2.    Faktor lingkungan. Gen merupakan faktor yang penting dalam berbagai kasus obesitas, tetapi lingkungan seseorang juga memegang peranan yang cukup berarti. Lingkungan ini termasuk perilaku/pola gaya hidup (misalnya apa yang dimakan dan berapa kali seseorang makan serta bagaimana aktivitasnya). Seseorang tentu saja tidak dapat mengubah pola genetiknya, tetapi dia dapat mengubah pola makan dan aktivitasnya.
3.    Faktor psikis. Apa yang ada di dalam pikiran seseorang bisa mempengaruhi kebiasaan makannya. Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan makan.Salah satu bentuk gangguan emosi adalah persepsi diri yang negatif.Gangguan ini merupakan masalah yang serius pada banyak wanita muda yang menderita obesitas, dan bisa menimbulkan kesadaran yang berlebihan tentang kegemukannya serta rasa tidak nyaman dalam pergaulan sosial.




 3. Langkah awal dalam mengobati obesitas adalah menaksir lemak tubuh penderita dan resiko kesehatannya dengan cara menghitung BMI. Resiko kesehatan yang berhubungan dengan obesitas akan meningkat sejalan dengan meningkatnya angka BMI :
1. Resiko rendah : BMI < 27
2. Resiko menengah : BMI 27-30
3. Resiko tinggi : BMI 30-35
4. Resiko sangat tinggi : BMI 35-40
5. Resiko sangat sangat tinggi : BMI 40 atau lebih.

DAFTAR PUSTAKA         

Anwar, Syaiful. 2005. Obesitas dalam Masyarakat.Jakarta: Yudhistira.
Ibrahim, Anwar. 2008. Obesitas. Surabaya: Pariwara.
Suardi. 2010. Pengertian Obesitas. Diunduh di http://www.pediatrik.com, tanggal 19 Desember 2010
Jodi, M. 2009. Etiologi Obesitas. Diunduh di http://www.infokedokteran.net tanggal 21 Desember 2010
Tim Webster. 2010. Obesitas. Diunduh di http://www.obesitas.web.id tanggal 20 Desember 2010.


Penyakit Asma Bronchial




Nama: puji puspita sari
Npm :120100162p

pengertian
Asma bronchial atau di sebut juga benek adalah suatu penyakit kronis yang ditandai dengan adanya peningkatan kepekaan saluran nafas  terhadap berbagai rangsang dari luar (debu,serbuk bunga,udara dingin,makanan,dll) yang menyebabkan penyempitan saluran nafas yang meluas dan dapat sembuh spontan maupun pengobatan.Keadaan ni dapat menyebabkan gejala sesak nafas, nafas berbunyi dan batuk yang sering disertai dengan lender.keadaan yang berat dapat menimbulkan kegagalan pernafasan sampai kematian. Sebagian besar asma pada anak adalah karena alergi.penyakit pada anak dapat mempunyai dampak yang luas terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Kekurangan oksigen yang menahun pada anak dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan badan maupun intelektualnya.

Penyebabnya
Ada beberapa penyebab asma bronkial. Penyebab utama adalah tingkat perlawanan terhadap aliran udara di saluran bronkial. Meskipun otot bagian ini bekerja lebih keras, mereka tidak dapat mendukung aktivitas pernapasan dan pertukaran gas. Hasilnya adalah serangan asma bronkial di mana terdapat kejang otot bronkial, pembengkakan pada dinding bronkus dan peningkatan sekresi lendir.Penyebab lain dari asma bronkial adalah : infeksi saluran pernapasan, udara dingin, olahraga, asap, polusi, stres, kecemasan dan alergi dari makanan atau obat-obatan.Kadang-kadang, asma bronkial juga dipicu oleh serbuk sari, debu, jamur atau kapang.
Gejala asma
pada penderita muncul ketika saluran udara pada sistem pernapasan menjadi ketat, terangsang, atau terisi dengan lendir.Gejala asma antara lain batuk (terutama pada malam hari), mengi, sesak napas, sesak pada dada, atau terasa tertekan. Tidak setiap orang dengan asma mempunyai gejala yang sama dengan cara yang sama. Penderita penyakit asma tidak memiliki semua gejala ini, atau mungkin memiliki gejala asma yang berbeda pada waktu yang berbeda. Gejala penyakit asma juga dapat bervariasi dari satu serangan asma ke serangan berikutnya.

Pengobatan asma bronchial
Pengenalan jenis serangan asma berkaitan erat dengan cara pengobatan. Serangan asma/ bengek di bagi 2 macam yaitu :
1.      serangan asma bronchial/bengek hanya sekali-sekali, ada periode bebas sesak nafas, serangan mengi mungkin terjadi misalnya sewaktu jogging, makan suatu makanan yang kebetulan alergi, mencium bnatang peliharaan,dsb.
Jenis ini memberikan respons yang baik terhadap pemberian obat pelonggar nafas hirup (inhaler) di mana merupakan obar yang paling aman tanpa efek samping. Dapat juga di berikan obat pelonggar nafas dalam bentuk tablet maupun sirup.
2.      Penderita asma bronchial/bengek ini tidak pernah merasakan benar-benar bebas sesak, jadi setiap hari menderita mengi.saluran pernafasannya mengalami keradangan sehingga mempunyai resiko un tuk terjadi serangan lebih sering walaupun sudah di berikan obat pelonggar nafas. Oleh karenanya, penderita memerlukan obat tambahan berupa anti keradangan (biasanya keluarga steroid)
Daftar pustaka

Alotaibi, Sultan 2000. Diagnosis of Occupational Asthma: Review Vol. 22, No. 1, March 2000. www.bahrainmedicalbulletin.com/march_2000/Asthma.pdf. Diakses tanggal 20 november 2010.
Anonim. 2010. Asthma Bronchiolus. Wikipedia. www.wikipedia.org. Diakses pada tanggal 30 November 2010
Clifford, dkk. 1987. Symptoms, atopy, and bronchial response to methacholine in parents with asthma and their children. www.ncbi.nlm.nih.gov/ pmc/articles/.../pdf/archdisch00702-0072.pdf. Diakses tanggal 20 november 2010.
Cunningham, Gary. 2003. Williams Obstetrics 21 Edition. McGraw-Hill Companies : USA.


ARTIKEL TENTANG MIGREN


NAMA : PERA NOPITA SARI
NPM   : 120100105

A.    Pengertian Migrain
Migrain atau sering juga disebut sakit kepala atau pusing sebelah adalah nyeri kepala berdenyut yang kerapkali disertai mual,muntah. Penderita biasanya sensitive terhadap cahaya,suara,bahkan bau-bauan. Sakit kepala ini paling sering hanya mengenai satu sisi kepala saja,kadang-kadang berpindah ke sisi sebelahnya,tetapi dapat mengenai kedua sisi kepala sekaligus.
Migrain kadang kala agak sulit dibedakan dengan sakit kepala jenis lain. Sakit kepala akibat gangguan pada sinus atau akibat ketegangan otot leher mempunyai gejala yang hamper sama dengan gejala migraine. Migrain dapat timbul bersama penyakit lain, misalnya tumor atau infeksi,dapat juga menimbulkan gejala yang mirip migrain. Kejadian ini sangat jarang.
 Kata migraine berasal dari bahasa yunani yaitu hemicrania (hemi=setengah, cranium=tengkorak kepala). Serangan skait kepala migraine dapat terjadi beberapa kali setahun sampai beberapa kali seminggu, dengan lama serangan biasanya 1-2 jam. Migrain atau sakit kepala sebelah sebenarnya belum diketahui secara pasti penyebabnya. Namun, diperkirakan sakit kepala ini disebabkan karena adanya hiperaktifitas impuls listrik otak yang meningkatkan aliran darah otak serta proses inflamasi (luka radang). Ada juga skit kepala tipe ketegangan (tension type headache atau TTH) cirinya adalah kedua sisi kepala seperti diremas dengan kencang,tapi tidak disertai gejala lain (tidak mual,muntah,sensitive cahaya dan lain-lain).
B.     Macam-Macam Migrain
Migraine dibagi dalam 2 golongan besar, yaitu:
1.      Migrain Biasa (migraine tanpa aura):
Kebanyakan penderita migraine masuk kedalam jenis ini. Migraine biasa ditandai dengan nyeri kepala berdenyut disalah satu sisi dengan intesintas yang sedang sampai berat dan semakin parah pada saat melakukan aktifitas. Migraine ini juga disertai mual,muntah,sensitive terhadap cahaya dan bau. Sakit kepala akan sembuh dalam 4 sampai 72 jam,sekalipun tidak diobati.
2.      Migrain Klasik (migrain dengan aura):
Pada jenis klasik, migraine biasanya didahului oleh suatu gejala yang dinamakan aura, yang terjadi dalam 30 menit sebelum timbul migrain. Migraine klasik merupakan 30% dari semua migrain.
C.     Penyebab Migrain
Penyebab pasti migraine masih belum begitu jelas. Diperkirakan, adanya hiperaktifitas impuls listrik otak meningkatkan aliran darah di otak, akibatnya terjadi pelebaran pembuluh darah otak serta proses inflamasi. Pelebaran dan inflamasi ini menyebabkan timbulnya nyeri dan gejala yang lain. Misalnya, mual. Semakin berat inflamasi yang terjadi, semakin berat migraine yang di derita. Telah diketahui bahwa factor genetic berperan terhadap timbulnya migrain.
D.    Gejala Migrain
Gejala awal: satu atau dua hari sebelum timbul migrain, penderita biasanya mengalami gejala awal seperti lemah,menguap berlebih,sangat menginginkan suatu jenis makanan (misalnya, coklat), gampang tersinggung dan gelisah.
Aura: hanya didapati pada migraine klasik. Biasanya terjadi dalam 30 menit sebelum timbulnya migrain. Aura dapat berbentuk gangguan penglihatan seperti melihat garis yang bergelombang,cahaya terang,bintik gelap,atau tidak dapat melihat benda dengan jelas. Gejala aura yang lain yaitu rasa geli atau rasa kesemutan di tangan. Sebagian penderita tidak dapat mengucapkan kata-kata dengan baik,merasa kebas di tangan,pundak atau wajah atau merasa lemah pada satu sisi tubuhnya atau merasa bingung.
Sakit kepala dan gejala penyerta: penderita merasakan nyeri berdenyut pada satu sisi kepala,sering terasa di belakang mata. Nyeri dapat berpindah pada sisi sebelahnya pada serangan berikutnya, atau mengenai kedua belah sisi. Rasa nyeri berkisar antara sedang sampai berat.
Gejala Akhir: setelah nyeri kepala sembuh,penderita mungkin merasa nyeri pada ototnya,lemas,atau bahkan merasakan kegembiraan yang singkat. Gejala-gejala ini menghilang dalam 24 jam setelah hilangnya sakit kepala.
E.     Pengobatan Migrain
Pada tahap awal,anda dapat menggunakan antinyeri yang dapat dibeli bebas tanpa resep,seperti parasetamol, atau obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) seperti asipirin,ibuprofen,atau natrium naproxen, untuk mengurangi gejala migrain. Dokter biasanya menganjurkan untuk lebih dahulu menggunakan NSAID untuk melihat apakah obat ini mampu mengurangi nyeri sebelum memberikan obat anti migraine golongan lain yang harus dibeli dengan resep yang mempunyai banyak efek samping.
F.      Cara Mencegah Migrain
Cara terbaik untuk mengatasi migrain adalah dengan menghindarinya. Dengan mengenali dan menghindari pencetus,jumlah serangan dan tingkat keparan migraine dapat dikurangi. Hal-hal berikut dapat membantu anda untuk mencegah migraine:
1.      Mengenali pencetus migraine dengan membuat buku harian
2.      Tidur dan beraktivitas secara teratur
3.      Makan teratur dan menghindari makanan yang dapat mencetuskan migraine
4.      Mengatasi stress
5.      Menghindari asap rokok, baik sebagai perokok aktif maupun pasif.
Pencegahan dapat pula dilakukan dengan obat-obatan,walaupun dapat terjadi efek samping dari ringan sampai sedang. Obat ini juga biasanya agak mahal. Tetapi, obat ini kadangkala efektif untuk mencegah dan mengurangi keparahan migrain,sehingga memperbaiki kualitas hidup.
DAFTAR PUSTAKA
·         David A.Greenberg,Michael J.Aminoff, Roger P.Simon (2002).
Clinical Neurology 5th edition. McGraw –Hill/Appleton & lange.
·         Andrea C.Adams, MD (2008). Mayo Clinic Essential Neurology. Mayo Foundation
·         Dawn A.Marcus, MD(2007). Headache and Chronic Pain Syndromes. Humana Press Inc




Artikel Tentang Rabies Sang Pembawa Maut



Nama : Penti Asminar
Npm : 110100079



1. Definisi      
            Rabies adalah suatu penyakit infeksi virus akut pada susunan saraf pusat pada manusia dan mamalia yang selalu fatal, yang ditularkan langsung kepada manusia dari hewan yang terinfeksi. melalui gigitan atau kulit yang terluka yang terpapar dengan air liur hewan itu. Penyakit ini tergolong Zoonosis. Hewan penular yang paling sering adalah anjing (90%), sehingga di Indonesia disebut juga penyakit Anjing Gila. Hewan lain yang bisa menularkan adalah kucing, kera, raccoon, dan kelelawar. Diseluruh dunia penyakit ini menyebabkan lebih dari 30.000 orang meninggal setiap tahunnya.    
            Mengingat masih tingginya angka kejadian penyakit rabies pada hewan, dan kasus yang terjadi di Nias Utara, maka penulis merasa perlu menguraikan tentang penyakit ini, cara mengenalnya dan pencegahannya.       

2. Penyebab  
            Kuman penyebabnya adalah golongan Virus genus Lyssa-virus, famili Rhabdoviridae yang berbentuk seperti peluru dengan diameter 75 - 80 nm. Virus ini masuk kedalam aliran darah manusia lewat luka gigitan hewan terinfeksi melalui air liur (saliva). Virus bergerak dari luka gigitan melalui serabut saraf menuju ke otak, yang kemudian akan menyebabkan terjadinya peradangan otak (ensefalitis), iritasi dan pembengkakan yang akan menyebabkan timbulnya gejala-gejala penyakit.        

3. Penularan dan Penyebaran        
            Masa inkubasinya berkisar antara 10 hari sampai 7 tahun, dengan rata-rata 3 – 7 minggu. Diseluruh dunia, anjing merupakan hewan yang paling berisiko untuk menularkan rabies kepada manusia. Di Amerika dan Inggeris sudah meluas dan ekstensif program vaksinasi terhadap hewan piaraan. Inggeris telah berhasil mengeradikasi rabies, dan tidak diizinkan membawa hewan piaraan ke Inggeris sebelum menjalani karantina 6 bulan.    
            Di Indonesia, rabies diduga telah lama ada, namun laporan resmi ditulis pertama kali oleh Penning di Jawa Barat, tahun 1889. Peraturan tentang rabies telah ada sejak tahun 1926 (Hondsdolsheid Ordonansi Nomor 451 dan 452), diikuti oleh Staatsblad 1928 Nomor 180, SK Bersama Tiga Menteri (Pertanian, Kesehatan, dan Dalam Negeri) tahun 1978, dan Pedoman Khusus dari Menteri Pertanian (1982).   

4. Gejala dan Tanda
            Ada 4 stadium: pertama, Stadium prodromal, biasanya 1 - 4 hari dengan demam yang tidak begitu tinggi, nyeri pada daerah bekas gigitan, rasa lesu. Gejala ini tidak spesifik, sama seperti pada penyakit lainnya. Stadium kedua disebut Ensefalitis akut (peradangan otak) yg timbul setelah beberapa hari setelah timbul gejala prodromal dengan kejang, halusinasi, kejang pada otot pinggang, dan otot anggota gerak, keluar air mata yang berlebihan, dan sekresi air liur juga berlebihan. Stadium ketiga disebut Disfungsi batang otak, tejadi gangguan saraf pusat berupa : pandangan double (diplopia), kelumpuhan saraf muka, hidrofobia, yaitu bila penderita diberi air minum, pasien menerimanya oleh karena haus, tetapi kehendak ini dihalangi oleh spasme/kejang yang hebat dari otot tenggorokan, kontraksi otot faring dan otot pernafasan sehingga pasien merasa takut terhadap air. Stadium keempat, Stadium Koma dan terjadinya kematian atau sembuh, tapi hampir seluruh pasien berakhir dengan kematian

5. Pencegahan           
            Untuk mencegah infeksi pada penderita yang terpapar dengan virus rabies melalui kontak ataupun gigitan binatang pengidap atau tersangka rabies, harus dilakukan perawatan luka gigitan yang adekuat dan pemberian vaksin anti rabies dan immunoglobulin. Vaksinasi perlu juga diberikan kepada individu yang berisiko tertular rabies.      

DAFTAR PUSTAKA         

1. Harijanto PN , Gunawan CA, dkk. 2006. Rabies dikutip dari BAB Tropik Infeksi dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FK UI : Jakarta   
2. Calvarica. Rabies dikutip dari http://www.who.int/rabies/trs931_ %2006_05.pdf-who. 6 Januari 2010 
3. Mahendrasari D. Penanganan dan Pencegahan Kasus Penyakit Rabies dikutip dari http://duniaveteriner.com/2009/05/penanganan-dan-pencegahan-kasus-penyakit-rabies/print-penangan dan pencegahan peny.rabies, 6 Januari 2010