Selasa, 13 Mei 2014

PENYAKIT TBC (TUBERCULOSIS)



NAMA  : LESTARI SINATRA
NPM     : 110100046

Penyakit TBC atau dikenal juga dengan Tuberkulosis adalah infeksi yang disebabkan oleh basil tahan asam disingkat BTA nama lengkapnya Mycobacterium Tuberculosis.  Walaupun Penyakit TBC dapat menyerang berbagai organ tubuh, namun kuman ini paling sering menyerang organ Paru.  Infeksi Primer terjadi pada individu yang sebelumya belum memiliki kekebalan tubuh terhadap M Tuberculosis.  Basil Penyakit TBC terhisap melalui saluran pernapasan masuk kedalam paru, kemudian basil masuk lagi ke saluran limfe paru dan dari ini basil TBC menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah.   Melalui aliran darah inilah basil TBC menyebar keberbagai Organ tubuh.
Penyakit TBC dapat menyerang siapa saja (tua, muda, laki-laki, perempuan, miskin, atau kaya) dan dimana saja. Setiap tahunnya, Indonesia bertambah dengan seperempat juta kasus baru TBC dan sekitar 140.000 kematian terjadi setiap tahunnya disebabkan oleh TBC. Bahkan, Indonesia adalah negara ketiga terbesar dengan masalah TBC di dunia.
TBC di Indonesia menjadi masalah serius karena penularannya sangat mudah. Temuan kasus baru dan akses terhadap pengobatan menjadi hal terpenting supaya penanganan TBC berhasil. Satu seperempat abad atau 125 tahun sudah bakteri tuberkulosis (TBC) ditemukan. Upaya mengenyahkan penyakit ini terus dilakukan, baik dalam skala global maupun lokal. Namun, semakin keras usaha melawan TBC semakin pintar juga bakteri TBC berkelit. Akibatnya, pengobatan penyakit ini menemui banyak jalan buntu. Alih-alih lenyap, justr bakteri semakin resisten dan multi resisten.
Organisasi Kesehatan Dunia WHO menggolongkan TBC sebagai penyakit endemik yang sulit dihilangkan. Riset WHO tahun lalu menunjukkan hampir sepertiga penduduk dunia mengidap TBC. Setiap tahun, lebih dari 1,7 juta orang meninggal. Laju penyebaran penyakit ini sulit dibendung lantaran TBC mudah sekali menular.
Dalam persepektif Indonesia, TBC juga menjadi masalah serius. Indonesia merupakan negara kelima sebagai negara yang paling banyak pengidap TBC. Indonesia hanya kalah dari Swaziland, Kamboja, Zambia dan Djibouti. Jumlah pengidap TBC saat ini 321 per 100 ribu penduduk.
Survei prevalensi TBC yang dilakukan di enam propinsi pada tahun 1983-1993 menunjukkan bahwa prevalensi TBC di Indonesia berkisar antara 0,2 – 0,65%. Sedangkan menurut laporan Penanggulangan TBC Global yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2004, angka insidensi TBC pada tahun 2002 mencapai 555.000 kasus (256 kasus/100.000 penduduk), dan 46% diantaranya diperkirakan merupakan kasus baru.
Pengobatan TBC di Indonesia terbilang sulit, karena kita masih tertidur, terlelap dalam mimpi panjang. Banyak pengidap TBC yang seharusnya sembuh, karena terkendala masalah biaya, penyakit itu kambuh kembali. Apalagi, kesadaran berobat juga masih rendah. Padahal TBC dapat disembuhkan. Karena itu, dibutuhkan kerjasama semua pihak dalam menanggulangi TBC.
Saat ini baru 50% penderita tuberkulosis di Indonesia yang berhasil disembuhkan. “Untuk mempercepat penanganan TBC, tahun ini  pemerintah akan melakukan temuan kasus baru secara aktif,” ujar Menteri Kesehatan, DR. Dr. Siti Fadillah Supari, SpJP(K) dalam peringatan hari TBC sedunia 24 Maret Lalu. Pencapaian Indonesia sebenarnya sudah mencapai target global. Angka temuan kasus (case detection rate/CDR) di Indonesia 74% dan angka kesembuhan sukses (success rate/SR) 89%. Adapun target global adalah CDR 70% dan SR 85%.
Angka CDR, kata Menkes, harus ditingkatkan. Caranya, tenaga kesehatan tidak lagi menunggu di puskesmas, tapi aktif menemukan kasus TBC di masyarakat. Langkah penemuan kasus baru TBC, diantaranya menggunakan deteksi TBC yang lebih sensitif dan spesifik. Deteksi lama yang digunakan sejak seabad lalu, yaitu dengan melihat adanya basil tahan asam atau BTA+ dalam dahak penderita, dianggap telah kadarluasa. Dalam perspektif global, saat ini sedang dicari cara diagnosis baru yang lebih efektif. Sejauh ini belum ada cara deteksi yang sensitif dan spesiik yang bisa diterapkan bagi masyarkat luas. Kasus TBC di Indonesia menjadi momok mengingat penularan penyakit ini sangat mudah. Survei nasional yang dilakukan pada tahun 2004 menunjukkan setiap dua setengah menit, akan muncul satu pengidap TBC baru.
Bukan cuma penularan, tingkat kematian akibat TBC di Indonesia juga terbilang tinggi. Kertas kerja WHO tahun 2000 sangat mengejutkan. Disitu tercatat, setiap 4 menit sekali, satu orang Indonesia meninggal karena TBC.

Sumber:
·        klik-galamedia.com
·         nusaindah.tripod.com
·        fildza.wordpress.com/2008/penyakit-tuberkolosis
Semoga Artikel Kesehatan - Penyakit TBC ini bermanfaat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar