By : Charlie Vanda
Hookeriana
NPM : 110100016
Adakah yang tahu
kalau tanggal 28 Juli besok diperingati sebagai Hari Hepatitis Sedunia?
Jangan-jangan banyak pula yang tidak tahu kalau Indonesia punya peran penting
dalam memprakarsai agar penyakit ini sebagai perhatian dunia.
Prakarsa
Indonesia itu dibahas dalam sidang World Health Assembly (WHA) ke-63 tahun 2010
dan berbuah resolusi yang menyerukan supaya semua negara di dunia melakukan
penanganan Hepatitis secara komprehensif, mulai dari pencegahan sampai
pengobatan, meliputi berbagai aspek termasuk pengawasan dan penelitian.
Resolusi itu sekaligus menetapkan World Hepatitis Day atau Hari Hepatitis Dunia
jatuh pada tanggal 28 Juli setiap tahunnya.
Tidak banyak yang
tahu, bahwa virus hepatitis bisa lebih berbahaya ketimbang virus HIV. Pasalnya,
virus hepatitis B dapat menginfeksi 50 sampai 100 kali lebih besar daripada
HIV. Dari 7 jenis virus hepatitis, yaitu hepatitis A, B, C, D, E, F, dan G,
virus hepatitis B dan C adalah jenis virus yang paling berbahaya, sebab dapat
berkembang menjadi kanker hati.
Hepatitis B
adalah infeksi menular yang menyerang hati (liver) yang disebabkan oleh virus
HBV. Virus ini hanya dapat menular melalui kontak darah atau cairan tubuh
lainnya dengan orang yang terinfeksi, seperti: transfusi darah, penggunaan
jarum suntik khususnya untuk pengguna narkoba suntik, kontak seksual,
penggunaan peralatan makan yang sama dengan orang yang terinfeksi, proses
kelahiran dan kehamilan dari ibu yang terinfeksi, dan sebagainya. Sebaliknya,
virus ini tidak bisa menular melalui sentuhan atau kontak biasa, dan tidak
menyebar dari makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Gejala-gejala.
Jika tubuh kita terinfeksi HBV, ada beberapa gejala yang menandainya, yaitu:
- Warna kulit menjadi lebih kuning (jaundice/sakit kuning)
- Warna urine menjadi lebih gelap
- Mudah lelah atau seringkali merasa lelah yang teramat sangat
- Mual dan muntah
- Pingsan bahkan koma
- Sakit di bagian perut.
Butuh waktu
berbulan-bulan, bahkan setahun untuk bisa sembuh dari gejala-gejala itu. Dan
jika tidak segera ditangani, HBV bisa menyebabkan infeksi hati yang kronis,
yang kemudian dapat berkembang menjadi sirosis hati atau kanker hati. Jika
sudah pada tahap sirosis, dapat menyebabkan kematian pada penderitanya.
Bahaya pada anak.
Kapan infeksi virus hepatitis B menjadi kronis tergantung pada usia berapa
seseorang terinfeksi. Jika seseorang terinfeksi ketika masa kanak-kanak, maka
akan lebih besar kemungkinan infeksi itu berkembang menjadi infeksi yang lebih
kronis.
Sekitar 90 persen
bayi yang terinfeksi virus ini pada tahun pertama, akan berkembang menjadi
infeksi kronis. Sementara pada anak-anak yang terinfeksi pada usia antara satu
sampai empat tahun, sekitar 30 sampai 50 persennya akan berkembang menjadi
infeksi kronis. Dan sekitar 25 persen orang dewasa meninggal karena kanker
hati, dimana ia terinfeksi HBV sejak masa kanak-kanaknya. Namun, sekitar 90
persen orang dewasa sehat yang baru terinfeksi HBV dapat sembuh dan virus bisa
hilang dalam jangka waktu enam bulan.
Imunisasi itu
penting! Itulah sebabnya, mengapa imunisasi vaksin hepatitis B sangat
diperlukan sejak kecil, untuk menghindari anak terkena virus hepatitis B. Dan Vaksin Hepatitis B yang aman
dan efektif dan biasanya diberikan 3-4 kali selama 6 bulan
Jika rangkaian
vaksin hepatitis sudah diberikan secara lengkap, maka sekitar 95 persen
antibodi pada bayi, anak-anak, dan dewasa muda, dapat melindungi tubuh dari
virus HBV. Setelah usia 40 tahun, perlindungan dari vaksin tersebut turun menjadi
sekitar 90 persennya.
Adakah obatnya?
Kini penderita hepatitis B sudah bisa sedikit bernapas lega. Obat untuk
mengobati penyakit ini sudah ditemukan. Ada empat jenis obat yang bisa
digunakan, yaitu lamivudin, adefovir, entecavir, atau peginterferon alfa-2a,
yang bisa dikonsumsi dengan cara ditelan (oral) atau injeksi.
Namun penggunaan
obat-obatan tersebut masih juga ada kekurangannya. Selain efek samping yang
mungkin terjadi, penggunaan obat-obatan hepatitis B harus dilakukan secara
rutin dan tidak boleh putus hingga pasien sembuh. Kalau tidak, maka tubuh akan
kebal terhadap obat, dan resisten. Selain itu, harga obat-obatan itu masih
cenderung mahal di Indonesia. Harganya bisa sekitar Rp. 2 juta untuk sekali
minum/suntik.
Bagaimana
pencegahannya? Upaya
tersebut terkait pula dengan pencegahan yang selalu lebih baik dibanding
mengobati. Ada pun kegiatan pencegahan dilakukan secara primer, sekunder, dan
tersier.
Pencegahan primer
yakni dengan cara promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), imunisasi pada
bayi, catch up immunization (imunisasi pada remaja dan dewasa). Pencegahan
sekunder melalui deteksi dini dengan skrining (penapisan), penegakan diagnosa
dan pengobatan. Sedangkan pencegahan tersier lebih kepada untuk mencegah
keparahan dan rehabilitasi, monitoring pengobatan untuk mengetahui efektifitas
dan resistensi terhadap obat pilihan.
Jadi, lebih baik mencegah daripada
mengobati bukan?
Sumber :
- Angela Wika C.K – Redaksi Ayahbunda-Online
- Sievert, William, Melvyn G. Korman, Terry Bolin. (2010). Segala Sesuatu tentang Hepatitis. Jakarta: Arcar.
- www.medicastore.com
- www.google.com
- www.wikipedia.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar