Selasa, 13 Mei 2014

Mengetahui Seluk Beluk Hepatitis B

By          :    Charlie Vanda Hookeriana
NPM      :    110100016

Adakah yang tahu kalau tanggal 28 Juli besok diperingati sebagai Hari Hepatitis Sedunia? Jangan-jangan banyak pula yang tidak tahu kalau Indonesia punya peran penting dalam memprakarsai agar penyakit ini sebagai perhatian dunia.

Prakarsa Indonesia itu dibahas dalam sidang World Health Assembly (WHA) ke-63 tahun 2010 dan berbuah resolusi yang menyerukan supaya semua negara di dunia melakukan penanganan Hepatitis secara komprehensif, mulai dari pencegahan sampai pengobatan, meliputi berbagai aspek termasuk pengawasan dan penelitian. Resolusi itu sekaligus menetapkan World Hepatitis Day atau Hari Hepatitis Dunia jatuh pada tanggal 28 Juli setiap tahunnya.
Tidak banyak yang tahu, bahwa virus hepatitis bisa lebih berbahaya ketimbang virus HIV. Pasalnya, virus hepatitis B dapat menginfeksi 50 sampai 100 kali lebih besar daripada HIV. Dari 7 jenis virus hepatitis, yaitu hepatitis A, B, C, D, E, F, dan G, virus hepatitis B dan C adalah jenis virus yang paling berbahaya, sebab dapat berkembang menjadi kanker hati.

Hepatitis B adalah infeksi menular yang menyerang hati (liver) yang disebabkan oleh virus HBV. Virus ini hanya dapat menular melalui kontak darah atau cairan tubuh lainnya dengan orang yang terinfeksi, seperti: transfusi darah, penggunaan jarum suntik khususnya untuk pengguna narkoba suntik, kontak seksual, penggunaan peralatan makan yang sama dengan orang yang terinfeksi, proses kelahiran dan kehamilan dari ibu yang terinfeksi, dan sebagainya. Sebaliknya, virus ini tidak bisa menular melalui sentuhan atau kontak biasa, dan tidak menyebar dari makanan atau minuman yang terkontaminasi.

Gejala-gejala. Jika tubuh kita terinfeksi HBV, ada beberapa gejala yang menandainya, yaitu:
  • Warna kulit menjadi lebih kuning (jaundice/sakit kuning)
  • Warna urine menjadi lebih gelap
  • Mudah lelah atau seringkali merasa lelah yang teramat sangat
  • Mual dan muntah
  • Pingsan bahkan koma
  • Sakit di bagian perut.

Butuh waktu berbulan-bulan, bahkan setahun untuk bisa sembuh dari gejala-gejala itu. Dan jika tidak segera ditangani, HBV bisa menyebabkan infeksi hati yang kronis, yang kemudian dapat berkembang menjadi sirosis hati atau kanker hati. Jika sudah pada tahap sirosis, dapat menyebabkan kematian pada penderitanya.

Bahaya pada anak. Kapan infeksi virus hepatitis B menjadi kronis tergantung pada usia berapa seseorang terinfeksi. Jika seseorang terinfeksi ketika masa kanak-kanak, maka akan lebih besar kemungkinan infeksi itu berkembang menjadi infeksi yang lebih kronis.

Sekitar 90 persen bayi yang terinfeksi virus ini pada tahun pertama, akan berkembang menjadi infeksi kronis. Sementara pada anak-anak yang terinfeksi pada usia antara satu sampai empat tahun, sekitar 30 sampai 50 persennya akan berkembang menjadi infeksi kronis. Dan sekitar 25 persen orang dewasa meninggal karena kanker hati, dimana ia terinfeksi HBV sejak masa kanak-kanaknya. Namun, sekitar 90 persen orang dewasa sehat yang baru terinfeksi HBV dapat sembuh dan virus bisa hilang dalam jangka waktu enam bulan.

Imunisasi itu penting! Itulah sebabnya, mengapa imunisasi vaksin hepatitis B sangat diperlukan sejak kecil, untuk menghindari anak terkena virus hepatitis B. Dan Vaksin Hepatitis B yang aman dan efektif dan biasanya diberikan 3-4 kali selama 6 bulan
Jika rangkaian vaksin hepatitis sudah diberikan secara lengkap, maka sekitar 95 persen antibodi pada bayi, anak-anak, dan dewasa muda, dapat melindungi tubuh dari virus HBV. Setelah usia 40 tahun, perlindungan dari vaksin tersebut turun menjadi sekitar 90 persennya.

Adakah obatnya? Kini penderita hepatitis B sudah bisa sedikit bernapas lega. Obat untuk mengobati penyakit ini sudah ditemukan. Ada empat jenis obat yang bisa digunakan, yaitu lamivudin, adefovir, entecavir, atau peginterferon alfa-2a, yang bisa dikonsumsi dengan cara ditelan (oral) atau injeksi.
Namun penggunaan obat-obatan tersebut masih juga ada kekurangannya. Selain efek samping yang mungkin terjadi, penggunaan obat-obatan hepatitis B harus dilakukan secara rutin dan tidak boleh putus hingga pasien sembuh. Kalau tidak, maka tubuh akan kebal terhadap obat, dan resisten. Selain itu, harga obat-obatan itu masih cenderung mahal di Indonesia. Harganya bisa sekitar Rp. 2 juta untuk sekali minum/suntik.

Bagaimana pencegahannya? Upaya tersebut terkait pula dengan pencegahan yang selalu lebih baik dibanding mengobati. Ada pun kegiatan pencegahan dilakukan secara primer, sekunder, dan tersier. 
Pencegahan primer yakni dengan cara promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), imunisasi pada bayi, catch up immunization (imunisasi pada remaja dan dewasa). Pencegahan sekunder melalui deteksi dini dengan skrining (penapisan), penegakan diagnosa dan pengobatan. Sedangkan pencegahan tersier lebih kepada untuk mencegah keparahan dan rehabilitasi, monitoring pengobatan untuk mengetahui efektifitas dan resistensi terhadap obat pilihan.
Jadi, lebih baik mencegah daripada mengobati bukan?          

Sumber :
  1. Angela Wika C.K Redaksi Ayahbunda-Online
  2. Sievert, William, Melvyn G. Korman, Terry Bolin. (2010). Segala Sesuatu tentang Hepatitis. Jakarta: Arcar.
  3. www.medicastore.com
  4. www.google.com
  5. www.wikipedia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar