Selasa, 13 Mei 2014

MENGENAL PENYAKIT TINEA VERSICOLOR



Nama   : Wika Indrayani
Npm    : 110100080

Di Indonesia  penyakit panu atau Tinea versicolor mungkin tidak asing lagi bagi sebagian orang, penyakit ini sangat terkenal tapi memalukan, orang akan merasa malu jika dibadannya terdapat penyakit ini. Maka dari itu jika penyakit kulit ini muncul dibadan seseorang pasti orang tersebut akan berusaha untuk menghilangkan serta menyembunyikannya. Penyebab dari penyakit ini tak lain dan tak bukan ialah karena jamur, penularannya sungguh sangatlah mudah yaitu dengan kontak langsung dengan si penderita.
Pada awalnya tidak ada gejala yang menunjukkan seseorang akan menderita panu. Tahu-tahu timbul bercak-bercak di kulit yang terasa gatal. Ada yang unik dari Tinea versicolor, sebutan versicolor berasal dari fakta bahwa infeksi ini menyebabkan kulit yang terlibat mengalami perubahan warna, baik menjadi lebih gelap maupun menjadi lebih terang daripada area kulit disekitarnya. Area kulit yang paling umum terserang adalah bahu, punggung dan dada. Pada keadaan lainnya infeksi dapat terjadi pada lipatan-lipatan kulit seperti lipatan lengan, kulit dibawah payudara, atau dilipat paha. Wajah biasanya jarang terkena, kecuali pada beberapa wajah anak, wajah mungkin juga terlibat. Kadang jumlah area yang terlibat sangat sedikit, sehingga tampak kentara, dan sisi lain area yang terlibat cukup luas sehingga memberikan gambaran bahwa kulit itu normal, sementara kulit normal akan tampak bermasalah.
Adakah yang tahu bagaimana patofisiologi penyakit ini ? Tinea versicolor disebabkan oleh adanya infeksi dari organisme dimorphic, lipoflik, dengan genus Malassezia, formalnya dikenal dengan nama Pityrosporum. Delapan spesies dikategorikan dalam klasifikasi ini, yang dimana Malassezia globosa dan Malassezia furfur adalah spesies yang utama ditemukan pada tinea versicolor. Malassezia sangat sulit dikultur dalam laboratorium dan hanya dapat dikultur di media yang kaya asam lemak C12-C14. Malassezia normalnya dapat ditemukan di semua kulit binatang, termasuk manusia. Jamur ini dapat diisolasi pada bayi 18% dan pada orang dewasa 90-100%.
Organisme ini dapat ditemukan disemua kulit yang sehat sampai dengan penyakit kulit. Pada pasien dengan penyakit kulit, organisme ini ditemukan dengan dalam bentuk yeast dan filamen. Faktor yang menyebabkan perubahan dari dulunya saprofita menjadi parasitik, karena adanya genetis, temperatur hangat, lembap, immunosuppresion, malnutrisi, dan penyakit cushing. Peptida manusia LL-37 berperan dalam mempertahankan kulit dari infeksi jamur ini.
Meskipun malassezia termasuk dalam flora normal kulit tetapi bisa ada kemungkinan menjadi patogen. Organisme ini juga dapat menjadi faktor pendukung penyakit kulit lain seperti pityrosporum folliculitis, konfluens dan reticulate papilomatosis, seborrheic dermatitis, dan beberapa bentuk dermatitis atopik.
Bagaimana cara pengobatan dan pencegahannya ? Pengobatan untuk penderita sakit panu dapat dilakukan dengan pemberian obat antara lain :
1.      Topical (pengobatan luar)
Pengobatan topical diberikan pada  panu (tinea versicolor)  yang terbatas dengan angka kekambuhan tinggi. Seperti pemberian Antifungal topical. Antifungal topical adalah cream atau salep yang mengandung miconazole, keteconazole, clotrinazole, econazole, or ciclopirox olamine sangat ampuh untuk menghilangkan panu. Cream ini dioleskan pada daerah yang terkena panu 1-2 kali setiap hari selama 2-4 minggu. Atau dengan memberikan ketoconazole shampoo dengan kandungan ketoconazole sebanyak 2% yang digunakan setiap 3 hari  dengan mengoleskan mulai dari bagian bawah kepala sampai ke paha. Shampo harus dibiarkan selama 5 menit baru kemudian dibilas.

2.      Obat Sistemik/Oral (diminum)
  Pengobatan ini diberikan pada pasien dengan panu yang luas diseluruh tubuh dan panu yang tidak berespon baik dengan pengobatan topical (luar) serta terjadi kekambuhan yang berulang. Seperti :
Ø  Itraconzole dengan dosis 200mg empat kali sehari selama 7 hari akan memberikan kesembuhan sebesar 89% pada 4 minggu pengobatan.
Ø  Fluconazole dengan dosis 300-400mg dosis tunggal dan dapat diulang setelah 2 minggu jika diperlukan.
Ø  Ketoconazole dosis tunggal 400mg. Pasien disarankan untuk tidak mandi selama 12 jam sehingga memberi kesempatan terjadinya akumulasi obat di kulit.

Jika panu sudah dapat dihilangkan, langkah yang penting adalah bagaimana mencegah timbulnya kembali panu tersebut (recurrent). Pencegahan ini dapat dilakukan dengan menggunakan ketoconazole shampoo 2%  atau selenium sulfide 2,5% sekali seminggu mulai dari leher sampai ke bagian paha dan didiamkan selama 5-10 menit baru kemudian dibilas. Selain itu hal yang lebih penting adalah menjaga hyegine pribadi, meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah obesitas dan mengobati penyakit yang menurunkan daya tahan tubuh serta menjaga agar tubuh tidak lembab.


Sumber :

Legawa, cahya. 2011. Tinea Versicolor. http://catatan.legawa.com/2011/03/tinea- versicolor/
Satriautama. 2008. Panu Tinea Versicolor.  http://satriautama.wordpress.com/2008/03/20/panu-tinea-versicolor/
Yositsune. 2010. Tinea versicolor. http://mymedstory.wordpress.com/tag/tinea-versicolor/
Yudashmara. 2009. Penyakit Kulit Panu atau Pityriasis versicolor. http://koranindonesiasehat.wordpress.com/2009/12/10/penyakit-kulit-panu-atau-pityriasis-versicolor/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar