DISUSUN OLEH : AHMAD SUKRI
Kekurangan
Gizi (Malnutrisi) merupakan penyebab kematian dan kesakitan pada anak-anak.
Kekurangan gizi bisa disebabkan oleh kurangnya asupan gizi atau ketidakmampuan tubuh untuk menyerap atau memetabolisir zat gizi.
Kekurangan gizi bisa terjadi ketika kebutuhan akan zat-zat gizi yang penting meningkat, misalnya pada saat mengalami stres, infeksi, cedera atau penyakit.
Kekurangan gizi bisa disebabkan oleh kurangnya asupan gizi atau ketidakmampuan tubuh untuk menyerap atau memetabolisir zat gizi.
Kekurangan gizi bisa terjadi ketika kebutuhan akan zat-zat gizi yang penting meningkat, misalnya pada saat mengalami stres, infeksi, cedera atau penyakit.
Kekurangan Kalori Protein (KKP)
merupakan salah satu bentuk kekurangan gizi yang paling serius. KKP terjadi
pada bayi akibat tidak adekuatnya masa menyusui ataupun masa menyapih.KKP
relatif sering ditemukan di negara-negara berkembang; di negara maju, bentuk
KKP yang lebih ringan ditemukan pada keluarga misikin.
Sebagai
bagian dari perawatan anak rutin, dokter akan menanyakan kepada orang tua
maupun anak mengenai makanan dan intoleransi terhadap makanan serta memeriksa
anak untuk mencari tanda-tanda dari kekurangan gizi atau kelainan yang
mempengaruhi keadaan gizi (misalnya malabsorbsi, penyakit ginjal, diare,
kelainan metabolik, kelainan genetik).
Pertumbuhan
anak dinilai melalui pengukuran tinggi badan dan berat badan dan
membandingkannya dengan grafik pertumbuhan yang normal.
Jika diduga terjadi malnutrisi, untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan pemeriksaan darah atau air kemih guna mengukur kadar zat gizi.
PENYEBAB MALNUTRISI
Jika diduga terjadi malnutrisi, untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan pemeriksaan darah atau air kemih guna mengukur kadar zat gizi.
PENYEBAB MALNUTRISI
Penyebab
malnutrisi akut pada anak-anak, yakni :
1.
kelainan
bakteri usus.
Kelainan bakteri usus itu tidak bisa
diatasi dengan pola makan tinggi kalori dan sehat karena efeknya hanya
sementara. Ka
2.
Pola
makan yang buruk
3.
Kekurangan Kalori Protein (KKP)
merupakan salah satu bentuk kekurangan gizi
yang paling serius. KKP terjadi pada bayi akibat tidak adekuatnya masa menyusui
ataupun masa menyapih.
4.
kurangnya ketahanan pangan keluarga,
5.
kualitas perawatan ibu dan anak,
6.
pelayanan kesehatan serta sanitasi lingkungan.
Secara klinis,
malnutrisi dinyatakan sebagai gizi kurang dan gizi buruk. Gizi kurang belum
menunjukkan gejala khas, belum ada kelainan biokimia, hanya dijumpai gangguan
pertumbuhan. Gangguan pertumbuhan dapat terjadi dalam waktu singkat dan dapat
terjadi dalam waktu yang cukup lama. Gangguan pertumbuhan dalam waktu yang
singkat sering terjadi pada perubahan berat badan sebagai akibat menurunnya
nafsu makan, sakit seperti diare dan ISPA, atau karena kurang cukupnya makanan
yang dikonsumsi. Sedangkan gangguan pertumbuhan yang berlangsung lama dapat
terlihat pada hambatan pertambahan panjang badan.
Pada gizi buruk
disamping gejala klinis didapatkan pula kelainan biokimia yang khas sesuai
bentuk klinis. Pada gizi buruk didapatkan 3 bentuk klinis yaitu kwashiorkor,
marasmus,dan marasmus kwashiorkor.
1.
Kwashiorkor adalah gangguan gizi karena kekurangan protein biasa
sering disebut busung lapar. Gejala yang timbul diantaranya
adalah edema di seluruh tubuh terutama punggung kaki, wajah membulat dan
sembab, perubahan status mental: rewel kadang apatis, menolak segala jenis
makanan (anoreksia), pembesaran jaringan hati, rambut kusam dan mudah dicabut,
gangguan kulit yang disebut crazy pavement,pandangan mata tampak sayu.
Pada umumnya penderita sering rewel dan banyak menangis. Pada stadium lanjut
anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.
2.
Marasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat.
Gejala yang timbul diantaranya tampak sangat kurus (tinggal tulang terbungkus
kulit), muka seperti orangtua (berkerut), tidak terlihat lemak dan otot di
bawah kulit, perut cekung, kulit keriput, rambut mudah patah dan kemerahan,
gangguan pencernaan (sering diare), pembesaran hati dan sebagainya. Anak tampak
sering rewel dan banyak menangis meskipun setelah makan, karena masih merasa
lapar. Pada stadium lanjut yang lebih berat anak tampak apatis atau kesadaran
yang menurun.
Untuk menentukan status
gizi menggunakan beberapa langkah. Langkah pertama adalah dengan melihat berat
badan dan umur anak disesuaikan dengan grafik KMS (Kartu Menuju Sehat). Bila
dijumpai berat badan di bawah garis merah (BGM) maka dilanjutkan dengan langkah
menentukan status gizi balita dengan menghitung berat badan terhadap tinggi
badan (BB/TB) berdasarkan standar WHO-NCHS. Dinyatakan gizi buruk bila BB/TB
<-3 SD standar WHO-NCHS.
Daftar Pustaka
http://dokterblog.wordpress.com -
http//wikipedia
www.terapi
sehat.com
www.hdindonesia.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar