disusun oleh : Melinda Yulite
kelas Reguler B
PENGERTIAN
PERTUSIS
Pertusis atau yang lebih dikenal orang awam sebagai
“batuk rejan” atau “batuk 100 hari” merupakan salah satu penyakit menular
saluran pernapasan yang sudah diketahui adanya sejak tahun 1500-an. Penyebab
tersering dari pertusis adalah kuman gram (-) Bordetella pertussis
Pertusis dapat dimaknai sebagai batuk hebat, batuk intensif,
atau batuk yang amat berat. Mengenal batuk pertusis itu mudah saja, asalkan itu
berupa penyakit infeksi, menyerang saluran pernapasan, bersifat
akut, serta mudah menular, tandanya adalah berupa batuk yang begitu hebat,
terkadang disertai dengan nada yang tinggi, maka kita boleh saja curiga bahwa
itu batuk pertusis.
CIRI-CIRI / KARAKTERISTIK PERTUSIS
Mengenal batuk pertusis itu juga
dapat diketahui dari karakteristik batuknya. Batuk
pertusis itu bersifat: Batuk Spasmodik yaitu sebentar-sebentar batuk,
disertai dengan perasaan resah, gelisah, dan tidak tenang. Batuk
Paroxysmal (paroksismal) yaitu serangan batuk yang sifatnya mendadak,
berulang-ulang, dan bersifat intensif.
PENYEBAB PERTUSIS
Pertusis umumya dikenal sebagai batuk rejan , yaitu jenis penyakit menular
yang disebabkan oleh jenis bakteri yang disebut Bordetella Pertusis. Bakteri ini menempel pada silia (kecil, mirip
rambut) dari sistem pernafasan bagian atas, bakteri ini melepaskan racun
bakteri yang merusak dan menyebabkan peradangan silia saluran nafas.
CARA PENULARAN
PERTUSIS
Penyakit ini
dapat ditularkan penderita kepada orang lain melalui percikan-percikan ludah
penderita pada saat batuk dan bersin. Dapat pula melalui sapu tangan, handuk
dan alat-alat makan yang dicemari kuman-kuman penyakit tersebut. Tanpa
dilakukan perawatan, orang yang menderita pertusis dapat menularkannya kepada
orang lain selama sampai 3 minggu setelah batuk dimulai.
GEJALA DAN
TANDA PERTUSIS
Gejala awal
mirip denga flu biasa, biasanya berkembang sekitar satu minggu setelah terpapar
bakteri. Episode yang parah mulainya batuk sekitar 10 hari sampai 12 hari kemudian.
Pada anak-anak batuk sering berakhir dengan suara ‘ teriakan’’.
Batuk ini
dapat menyebabkan muntah atau kehilangan kesadaran yang singkat, dan pada bayi
biasanya pada saat batuk terjadinya sedak sehingga bayi muntah. Gejala pertusis
lain meliputi hidung ingusan (meler), sedikit demam, diare dan lain-lain.
PENCEGAHAN
PERTUSIS
Pencegahan yang dilakukan secara aktif dan secarapasif:
a. Secara aktif
1. Dengan pemberian imunisasi DTP
dasar diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan(DTP tidak boleh dibrikan sebelum umur
6 minggu)dengan jarak 4-8 minggu. DTP-1 deberikan pada umur 2 bulan,DTP-2 pada
umur 4 bulan dan DTp-3 pada umur 6 bulan. Ulangan DTP selanjutnya diberikan 1
tahun setelah DTP-3 yaitu pada umur 18-24 bulan,DTP-5 pada saat masuk sekolah
umur 5 tahun. Pada umur 5 tahun harus diberikan penguat ulangan DTP. Untuk
meningkatkan cakupan imunisasi ulangan,vaksinasi DTP diberika pada awal sekolah
dasar dalam program bulan imunisasi anak sekolah(BIAS).
Beberapa penelitian menyatakan bahwa vaksinasi pertusis sudah dapat
diberikan pada umur 1 bulan dengan hasil yang baik sedangkan waktu epidemi
dapat diberikan lebih awal lagi pada umur 2-4 minggu.
Kontra indikasi pemberian vaksin pertusis :
1. Panas yang lebih dari 38 derajat
celcius
2. Riwayat kejang
3. Reaksi berlebihan setelah
imunisasi DTP sebelumnya, misalnya suhu tinggi dengan kejang, penurunan
kesadaran, syok atau reaksi anafilaktik lainnya.
b. Secara pasif
Secara pasif pencegahan dapat
dilakukan dengan memberikan kemopropilaksis. Ternyata eritromisin dapat
mencegah terjadinya pertussis untuk sementara waktu.
PENGOBATAN PERTUSIS
Penderita
dengan batuk pertusis disarankan untuk melakukan pemeriksaan penunjang,
misalnya: hitung jenis sel, leukosit, pemeriksaan imunoglobulin G
(IgG) terhadap toksin pertusis, dan melakukan foto rontgen dada (foto toraks). Dokter dapat mengenal batuk pertusis dan kemudian menegakkan diagnosis ini
bila telah menemukan organisme Bordetella pertussis pada sediaan apus
nasofaring posterior, dengan bahan media Bordet-Gengou.
DAFTAR
PUSTAKA
Garna, Harry. Pertusis. Azhali M.S, dkk : Ilmu Kesehatan
Anak Penyakit Infeksi Tropik. Bandung, Indonesia. FK Unpad, 1993. h: 80-86.
Long, Sarah S. Pertussis. Nelson : Textbook
of Pediatrics. USA. WB Saunders, 2004. 17th edition. Chapter
180. h: 908-912,1079.
Behram, klieman & Nelson. 2000. ”Ilmu kesehatan anak”. Jakarta
: EGC
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita selekta Kedokteran jilid 2.
Jakarta : Media Aesculapius
Wilson,Hockenberry.” Wong’s, nursing care of infants and children
jilid 2”.Canada: Evolve

Tidak ada komentar:
Posting Komentar