NAMA :DWI NUR ANNISA
NPM :1101000
KELAS :6.A.REGULER
A. Definisi
Filariasis
(penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular kronik yang disebabkan sumbatan
cacing filaria di kelenjar / saluran getah bening, menimbulkan gejala klinis akut
berupa demam berulang, radang kelenjar / saluran getah bening, edema dan gejala
kronik berupa elefantiasis.
1. Penyebab
Di
Indonesia ditemukan 3 spesies cacing filaria, yaitu Wuchereria bancrofti,
Brugia malayi dan Brugia timori yang masing-masing sebagai penyebab filariasis
bancrofti, filariasis malayi dan filariasis timori. Beragam spesies nyamuk
dapat berperan sebagai penular (vektor) penyakit tersebut.
2. Cara Penularan
Seseorang
tertular filariasis bila digigit nyamuk yang mengandung larva infektif cacing
filaria. Nyamuk yang menularkan filariasis adalah Anopheles, Culex, Mansonia,
Aedes dan Armigeres. Nyamuk tersebut tersebar luas di seluruh Indonesia sesuai
dengan keadaan lingkungan habitatnya (got/saluran air, sawah, rawa, hutan).
3. Filariasis tanpa Gejala
- Umumnya di daerah endemik
- Pada pemeriksaan fisik hanya ditemukan pembesaran kelenjar limfe terutama di daerah inguinal.
- Pada pemeriksaan darah ditemukan mikrofilaria dalam jumlah besar dan eosinofilia.
4. Filariasis dengan Peradangan
- Demam, menggigil, sakit kepala, muntah dan lemah yang dapat berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu.
- Organ yang terkena terutama saluran limfe tungkai dan alat kelamin.
- Pada laki-laki umumnya terdapat funikulitis disertai penebalan dan rasa nyeri, epididimitis, orkitis dan pembengkakan skrotum.
- Serangan akut dapat berlangsung satu bulan atau lebih.
- Bila keadaannya berat dapat menyebabkan abses ginjal, pembengkakan epididimis, jaringan retroperitoneal, kelenjar inguinal dan otot ileopsoas.
5. Diagnosis
- Diagnosis filariasis dapat ditegakkan secara klinis.
- Diagnosis dipastikan dengan menemukan mikrofilaria dalam darah tepi yang diambil malam hari (pukul 22.00 – 02.00 dinihari) dan dipulas dengan pewarnaan Giemsa.
- Pada keadaan kronik pemeriksaan ini sering negatif.
6. Pengobatan Spesifik
Untuk
pengobatan individual diberikan Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) 6 mg/kgBB 3 x
sehari selama 12 hari.
- Efek samping : pusing, mual dan demam selama menggunakan obat ini.
- Pengobatan masal (rekomendasi WHO) adalah DEC 6 mg/kgBB dan albendazol 400mg (+ parasetamol) dosis tunggal, sekali setahun selama 5 tahun.
- Implementation unit (IU) adalah kecamatan / wilayah kerja puskesmas (jumlah penduduk 8.000 – 10.000 orang).
7.
Tanda dan Gejala Penyakit Kaki Gajah
Seseorang yang terinfeksi penyakit kaki gajah umumnya terjadi pada usia
kanak-kanak, dimana dalam waktu yang cukup lama (bertahun-tahun) mulai
dirasakan perkembangannya.
Adapun gejala akut
yang dapat terjadi antara lain :
1.
Demam berulang-ulang selama 3-5
hari, demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat
2.
Pembengkakan kelenjar getah bening
(tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiak (lymphadenitis) yang tampak
kemerahan, panas dan sakit
3.
Radang saluran kelenjar getah
bening yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal
lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis)
4.
Filarial abses akibat seringnya
menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan
nanah serta darah
5.
Pembesaran tungkai, lengan, buah
dada, buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (early
lymphodema)
Sedangkan gejala kronis dari penyakit kaki gajah yaitu berupa
pembesaran yang menetap (elephantiasis) pada tungkai, lengan, buah dada, buah
zakar (elephantiasis skroti).
8.
Penanganan dan Pengobatan Penyakit Kaki Gajah
Tujuan utama dalam penanganan dini terhadap penderita penyakit kaki
gajah adalah membasmi parasit atau larva yang berkembang dalam tubuh penderita,
sehingga tingkat penularan dapat ditekan dan dikurangi.
Dietilkarbamasin {diethylcarbamazine (DEC)} adalah satu-satunya obat
filariasis yang ampuh baik untuk filariasis bancrofti maupun malayi, bersifat
makrofilarisidal dan mikrofilarisidal. Obat ini tergolong murah, aman dan tidak
ada resistensi obat. Penderita yang mendapatkan terapi obat ini mungkin akan
memberikan reaksi samping sistemik dan lokal yang bersifat sementara dan mudah
diatasi dengan obat simtomatik.
DAFTAR
PUSTAKA
1. Nutmat
TB, James W kazura . Filariasis.Dalam: Guerrant RL, walker DH, Weller PF,
penyunting.,Tropical Infectious Disease. Edisi ke-2.
Philadelphia:Elsevier;2006:1152-9
2. Scott AL.
Lymphatic-dwelling filariasis. Dalam: Thomas B. Nutman, penyunting. Lymphatic
filariasis. Imperial college press; 2002:5-7
3. Melrose
WD. Lymphatic filariasis: new insight into an old disease. Int J parasitol(2002;32:947-955).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar