Nama : Penti Asminar
Npm : 110100079
1. Definisi
Rabies adalah suatu penyakit infeksi virus akut pada susunan saraf pusat pada manusia dan mamalia yang selalu fatal, yang ditularkan langsung kepada manusia dari hewan yang terinfeksi. melalui gigitan atau kulit yang terluka yang terpapar dengan air liur hewan itu. Penyakit ini tergolong Zoonosis. Hewan penular yang paling sering adalah anjing (90%), sehingga di Indonesia disebut juga penyakit Anjing Gila. Hewan lain yang bisa menularkan adalah kucing, kera, raccoon, dan kelelawar. Diseluruh dunia penyakit ini menyebabkan lebih dari 30.000 orang meninggal setiap tahunnya.
Mengingat masih tingginya angka kejadian penyakit rabies pada hewan, dan kasus yang terjadi di Nias Utara, maka penulis merasa perlu menguraikan tentang penyakit ini, cara mengenalnya dan pencegahannya.
2. Penyebab
Kuman penyebabnya adalah golongan Virus genus Lyssa-virus, famili Rhabdoviridae yang berbentuk seperti peluru dengan diameter 75 - 80 nm. Virus ini masuk kedalam aliran darah manusia lewat luka gigitan hewan terinfeksi melalui air liur (saliva). Virus bergerak dari luka gigitan melalui serabut saraf menuju ke otak, yang kemudian akan menyebabkan terjadinya peradangan otak (ensefalitis), iritasi dan pembengkakan yang akan menyebabkan timbulnya gejala-gejala penyakit.
3. Penularan dan Penyebaran
Masa inkubasinya berkisar antara 10 hari sampai 7 tahun, dengan rata-rata 3 – 7 minggu. Diseluruh dunia, anjing merupakan hewan yang paling berisiko untuk menularkan rabies kepada manusia. Di Amerika dan Inggeris sudah meluas dan ekstensif program vaksinasi terhadap hewan piaraan. Inggeris telah berhasil mengeradikasi rabies, dan tidak diizinkan membawa hewan piaraan ke Inggeris sebelum menjalani karantina 6 bulan.
Di Indonesia, rabies diduga telah lama ada, namun laporan resmi ditulis pertama kali oleh Penning di Jawa Barat, tahun 1889. Peraturan tentang rabies telah ada sejak tahun 1926 (Hondsdolsheid Ordonansi Nomor 451 dan 452), diikuti oleh Staatsblad 1928 Nomor 180, SK Bersama Tiga Menteri (Pertanian, Kesehatan, dan Dalam Negeri) tahun 1978, dan Pedoman Khusus dari Menteri Pertanian (1982).
4. Gejala dan Tanda
Ada 4 stadium: pertama, Stadium prodromal, biasanya 1 - 4 hari dengan demam yang tidak begitu tinggi, nyeri pada daerah bekas gigitan, rasa lesu. Gejala ini tidak spesifik, sama seperti pada penyakit lainnya. Stadium kedua disebut Ensefalitis akut (peradangan otak) yg timbul setelah beberapa hari setelah timbul gejala prodromal dengan kejang, halusinasi, kejang pada otot pinggang, dan otot anggota gerak, keluar air mata yang berlebihan, dan sekresi air liur juga berlebihan. Stadium ketiga disebut Disfungsi batang otak, tejadi gangguan saraf pusat berupa : pandangan double (diplopia), kelumpuhan saraf muka, hidrofobia, yaitu bila penderita diberi air minum, pasien menerimanya oleh karena haus, tetapi kehendak ini dihalangi oleh spasme/kejang yang hebat dari otot tenggorokan, kontraksi otot faring dan otot pernafasan sehingga pasien merasa takut terhadap air. Stadium keempat, Stadium Koma dan terjadinya kematian atau sembuh, tapi hampir seluruh pasien berakhir dengan kematian
5. Pencegahan
Untuk mencegah infeksi pada penderita yang terpapar dengan virus rabies melalui kontak ataupun gigitan binatang pengidap atau tersangka rabies, harus dilakukan perawatan luka gigitan yang adekuat dan pemberian vaksin anti rabies dan immunoglobulin. Vaksinasi perlu juga diberikan kepada individu yang berisiko tertular rabies.
DAFTAR PUSTAKA
1. Harijanto PN , Gunawan CA, dkk. 2006. Rabies dikutip dari BAB Tropik Infeksi dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FK UI : Jakarta
2. Calvarica. Rabies dikutip dari http://www.who.int/rabies/trs931_ %2006_05.pdf-who. 6 Januari 2010
3. Mahendrasari D. Penanganan dan Pencegahan Kasus Penyakit Rabies dikutip dari http://duniaveteriner.com/2009/05/penanganan-dan-pencegahan-kasus-penyakit-rabies/print-penangan dan pencegahan peny.rabies, 6 Januari 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar