NPM
: 110100123P
1.
Pengertian
Askariasis
Askariasis
disebabkan oleh Ascariasis lumbricoides. Cacing Ascariasis
lumbricoides dewasa tinggal di dalam lumen usus kecil dan memiliki umur
10-2 bulan. Cacing betina dapat menghasilkan 200.000 telur setiap hari. Telur
fertil berbentuk oval dengan panjang 45-70 µm. Setelah keluar bersama tinja,
embrio dalam telur akan berkembang menjadi infektif dalam 5-10hari pada kondisi
lingkungan yang mendukung.
2.
Patofisiologi
Ascariasis lumbricoides adalah nematoda terbesar yang umumnya menginfeksi
manusia. Cacing dewasa berwarna putih atau kuning sepanjang 15-35 cm dan hidup
selama 10-24 bulan di jejunum dan bagian tengah ileum.
Seorang
anak yang mengalami askariasis, telur yang berada di dalam usus akan terbawa
feses dan mencemari lingkungan. Kalau anak-anak BAB sembarangan maka feses yang
mengandung telur akan mencemari tanah, telur cacing menempel di tangan
anak-anak yang bermain tanah, kemudian anak tersebut langsung makan tanpa cuci
tangan terlebih dahulu, maka telur yang menempel tersebut akan ikut tertelan.
Telur cacing yang kering juga dapat terbang di udara dan bisa langsung hinggap
di makanan.
Pada
tinja anak-anak penderita askariasis yang membuang air tidak pada tempatnya
dapat mengandung telur askariasis yang telah di buahi. Telur ini akan matang
dalam 21 hari. Bila ada anak-anak yang memegang tanah yang tercemar telur
askariasis dan tidak mencuci tangannya, kemudian tanpa sengaja makan dan
menelan telur Askariasis. Telur akan masuk ke saluran pencernaan dan telur akan
menjadi larva pada usus.
Larva
akan menembus usus dan masuk ke pembuluh darah. Ia akan beredar mengikuti
sistem peredaran, yakni hati, jantung, dan keudian di paru-paru. Pada
paru-paru, cacing akan merusak alveolus, masuk ke bronkiolus, bronkus, trakea,
kemudian di laring. Ia akan tertelan kembali masuk ke saluran cerna. Setibanya
di usus, larva akan menjadi cacing dewasa.
Cacing
akan menetap di usus dan kemudian berkopulasi dan bertelur. Telur ini pada
akhirnya akan keluar kembali bersama tinja. Siklus pun akan terulang kembali
bila penderita baru ini membuang tinjanya tidak pada tempatnya.
3. Pencegahan
Program pemberian antihilmitik yang dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1.
Memberikan pengobatan pada anak-anakyang berada pada daerah endemis
2. Memberikan pengobatan
pada anak-anak tertentu dengan frekuensi infeksi tinggi seperti anak-anak
sekolah dasar.
3.
Memberikan pengobatan pada anak-anak berdasarkan intensitas penyakit atau
infeksi yang telah lalu.
4.
Peningkatan kondisi sanitasi pada lingkungan rumah
5.
Menghentikan penggunaan tinja sebagai pupuk.
6.
Memberikan pendidikan tentang cara-cara pencegahan ascariasis.
DAFTAR PUSTAKA
Nugroho Taufan. 2010. Kamus Pintar
Kesehatan. Yogyakarta : Mulia Medika
Soegijanto,
Soegeng.2005.Kumpulan Makalah Penyakit Tropis Dan Infeksi Di Indonesia Jilid
4. Surabaya: Airlangga University Press
Staf
Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2002. Buku
Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 2.Jakarta :Percetakan Info Medika Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar