Senin, 26 Mei 2014

ARTIKEL PENYAKIT ASKARIASIS PADA ANAK-ANAK



Nama : Monica
NPM : 110100123P


1.    Pengertian Askariasis
Askariasis disebabkan oleh Ascariasis lumbricoides. Cacing Ascariasis lumbricoides dewasa tinggal di dalam lumen usus kecil dan memiliki umur 10-2 bulan. Cacing betina dapat menghasilkan 200.000 telur setiap hari. Telur fertil berbentuk oval dengan panjang 45-70 µm. Setelah keluar bersama tinja, embrio dalam telur akan berkembang menjadi infektif dalam 5-10hari pada kondisi lingkungan yang mendukung.
2.    Patofisiologi
            Ascariasis lumbricoides adalah nematoda terbesar yang umumnya menginfeksi manusia. Cacing dewasa berwarna putih atau kuning sepanjang 15-35 cm dan hidup selama 10-24 bulan di jejunum dan bagian tengah ileum.
Seorang anak yang mengalami askariasis, telur yang berada di dalam usus akan terbawa feses dan mencemari lingkungan. Kalau anak-anak BAB sembarangan maka feses yang mengandung telur akan mencemari tanah, telur cacing menempel di tangan anak-anak yang bermain tanah, kemudian anak tersebut langsung makan tanpa cuci tangan terlebih dahulu, maka telur yang menempel tersebut akan ikut tertelan. Telur cacing yang kering juga dapat terbang di udara dan bisa langsung hinggap di makanan.
Pada tinja anak-anak penderita askariasis yang membuang air tidak pada tempatnya dapat mengandung telur askariasis yang telah di buahi. Telur ini akan matang dalam 21 hari. Bila ada anak-anak yang memegang tanah yang tercemar telur askariasis dan tidak mencuci tangannya, kemudian tanpa sengaja makan dan menelan telur Askariasis. Telur akan masuk ke saluran pencernaan dan telur akan menjadi larva pada usus.
Larva akan menembus usus dan masuk ke pembuluh darah. Ia akan beredar mengikuti sistem peredaran, yakni hati, jantung, dan keudian di paru-paru. Pada paru-paru, cacing akan merusak alveolus, masuk ke bronkiolus, bronkus, trakea, kemudian di laring. Ia akan tertelan kembali masuk ke saluran cerna. Setibanya di usus, larva akan menjadi cacing dewasa.
Cacing akan menetap di usus dan kemudian berkopulasi dan bertelur. Telur ini pada akhirnya akan keluar kembali bersama tinja. Siklus pun akan terulang kembali bila penderita baru ini membuang tinjanya tidak pada tempatnya.
3.    Pencegahan
      Program pemberian antihilmitik yang dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1.      Memberikan pengobatan pada anak-anakyang berada pada daerah endemis
2.      Memberikan pengobatan pada anak-anak tertentu dengan frekuensi infeksi tinggi seperti anak-anak sekolah dasar.
3.      Memberikan pengobatan pada anak-anak berdasarkan intensitas penyakit atau infeksi yang telah lalu.
4.      Peningkatan kondisi sanitasi pada lingkungan rumah
5.      Menghentikan penggunaan tinja sebagai pupuk.
6.      Memberikan pendidikan tentang cara-cara pencegahan ascariasis.

DAFTAR PUSTAKA 
Nugroho Taufan. 2010. Kamus Pintar Kesehatan. Yogyakarta : Mulia Medika
Soegijanto, Soegeng.2005.Kumpulan Makalah Penyakit Tropis Dan Infeksi Di Indonesia Jilid 4. Surabaya: Airlangga University Press
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2002. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 2.Jakarta :Percetakan Info Medika Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar