Nama
: Marlina Zega
Npm :
11010011148
Fakultas
: Ilmu Kesehatan Masyarakat
A. PENGERTIAN
Impetigo
adalah infeksi piogenik superfisial dan mudah menular yang terdapat dipermukaan
kulit. Infeksi ini disebabkan oleh streptokok dan stafilokok, dan berpindah
dari manusia ke manusia melalui kontak, terutama antara anak-anak.
Pengobatannya terdiri dari pemberian antibiotik baik sistemik maupun topikal
dan antihistamin untuk mengurangi rasa gatal yang dirasakan.
Impetigo bullosa terdiri dari dua jenis, yaitu:
1.
Impetigo bullosa (dengan gelembung
berisi cairan),
merupakan kondisi yang lebih jarang terjadi dibandingkan bentuk nonbulosa. Agen
penyebab impetigo bullosa
adalah staphylococus aureus yang menghasilkan eksotoksin eksfoliatif
ekstraselular disebut exfoliatins A dan B.
2.
Impetigo nonbullosa (tanpa gelembung
cairan, dengan krusta /keropeng/
koreng),
adalah bentuk yang
paling sering dari impetigo dan terjadi sekitar 70% pada anak usia dibawah 15
tahun. Agen penyebab impetigo bullosa
adalah staphylococcus aureus untuk 50-60% dari kasus. selain itu, sekitar
20-45% kasus disebabkan kombinasi s.aureus dan s.pyogenes.
B. GEJALAN
Gejalan Impetigo bullosa merupakan suatu
bentuk impertigo dengan gejala utama
yang ditimbulkan berupa lepuh-lepuh berisi cairan kekuningan dengan dinding tebal. Lepuh-lepuh ini
timbul mendadak pada kulit sehat dan dapat bertahan 2-3 hari. Apabila
lepuh-lepuh ini pecah dapat menimbulkan tumpukan-tumpukan cairan yang akan
mengering berwarna cokelat datar dan tipis. Impetigo bullosa juga dikenal
sebagai impetigo vesikulo-bullosa atau cacar
monyet.
C. PENGOBATAN
Pengobatan
harus efektif, memiliki sedikit efek samping. Antibiotik topikal (lokal)
menguntungkan karena hanya diberikan pada kulit yang terinfeksi sehingga
meminimalkan efek samping. Untuk perawatan luka, bersihkan lesi dengan
menggunakan larutan antiseptik. Bila lesi basah, lesi bisa dikompres dengan
larutan permanganas kalikus 1/10.000 atau dengan antiseptik lainnya. Jika bula
besar dan banyak, sebaiknya dipecahkan dan dibersihkan dengan antiseptic dan
diberi salep antibiotic (kloramphenicol 2% atau eritromisin 3%). Jika ada
gejala konstitusi berupa demam sebaiknya diberikan antibitik sistemik seperti
penisilin 3-50mg/kgbb.
Tujuan
pengobatan impetigo adalah menghilangkan rasa tidak nyaman dan memperbaiki
kosmetik dari lesi impetigo, mencegah penyebaran infeksi ke orang lain dan
mencegah kekambuhan.
Terapi medikamentosa terapi topical
dan terapi sistemik:
1. Terapi
topical
Pengobatan topikal sebelum memberikan salep antibiotik
sebaiknya krusta sedikit dilepaskan baru kemudian diberi salep antibiotik. Pada
pengobatan topikal impetigo bulosa bisa dilakukan dengan pemberian antiseptik
atau salap antibiotik (Djuanda, 57:2005).
2.
Terapi sistemik
Penisilin
dan semisintetiknya (pilih salah satu)
Ø Penicillin
G procaine injeksi
Ø Ampicillin
Ø Amoksicillin
Ø Cloxacillin
(untuk Staphylococcus yang kebal penicillin)
Ø Phenoxymethyl
penicillin (penicillin V)
Ø Eritromisin
(bila alergi penisilin)
Ø Clindamisin
(alergi penisilin dan menderita saluran cerna).
D. KOMPLIKASI
Sebenarnya impetigo
tidaklah berbahaya, tapi kadang infeksi ini menyebabkan komplikasi serius meski
jarang terjadi, Impetigo biasanya sembuh tanpa penyulit dalam 2 minggu walaupun
tidak diobati. Komplikasi berupa radang ginjal/ Poststreptococcal
glomerulonephritis (PSGN) pasca infeksi Streptococcus terjadi pada 1-5%
pasien terutama usia 2-6 tahun dan hal ini tidak dipengaruhi oleh pengobatan
antibiotic.
Komplikasi lainnya yang
jarang terjadi adalah infeksi tulang (osteomielitis), radang paru-paru (pneumonia),
selulitis (merupakan infeksi serius yang menyerang jaringan di bawah kulit dan
dapat menyebar ke kelenjar getah bening serta memasuki aliran darah, Jika tak
ditangani, cellulitis dapat mengancam jiwa).
E. PENCEGAHAN
Pencegahan
dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan badan
dan lingkungan. Terutama menjaga kebersihan kulit dengan mandi memakai sabun
dua kali sehari.
Tindakan
yang bisa dilakukan guna pencegahan impetigo diantaranya :
a.
Cuci
tangan segera dengan menggunakan air mengalir bila habis kontak dengan kena impertigo
bullosa, terutama apabila terkena luka.
b.
Jangan
menggunakan pakaian yang sama dengan penderita
c.
Mandi
teratur dengan sabun dan air (sabun antiseptik dapat digunakan, namun dapat
mengiritasi pada sebagian kulit orang yang kulit sensitif)
d.
Higiene
yang baik, mencakup cuci tangan teratur, menjaga kuku jari tetap pendek dan
bersih
e.
Jauhkan
diri dari orang dengan impetigo
f.
Gunakan
sarung tangan saat mengoleskan antibiotik topikal di tempat yang terinfeksi dan
cuci tangan setelah itu.
DAFTAR PUSTAKA
1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC, 2007.Sherwood, L. Fisiologi Manusia : Dari Sel ke Sistem. EGC. Jakarta2001.
2. Siregar. S.R. Atlas Berwarna
Saripati Penyakit Kulit . EGC. Jakarta. 2004.
3. Syarif A et.al.Farmakologi dan Terapi.5thed. Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia;2007.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar